Rabu, 08 Desember 2010

Jam Tangan Fleksibel

Fungsi : sms, telepon, mp3, 3G, foto, menscan informasi, merekam obrolan secara otomatis, bersidik jari si pemilik, hologram.
Gambar :














Tujuan :
• Dapat mempermudah dalam banyak kegunaan hanya dengan satu Gadget.


Kelebihan :
• Tampilan awal pada Jam Tangan Fleksibel ini terlihat seperti jam tangan biasa sehingga orang lain yang melihat benda ini tidak akan curigadengan keunggulan sebuah jam tangan yang luar biasa.
• Dapat Merekam Obrolan secara otomatis antara pemilik dengan orang lain.
• Terdapat penyimpanan Sidik Jari yang berguna jika , jam tangan flesibel ini hilang maka, si pemilik dapat mengakses keadaan dan letak jam tangan dengan sidik jarinya sendiri.
• Tampilan belakang jam tangan fleksibel selain terdapat penyimpanan Sidik Jari juga terdapat Tampilan Belakang Otomatis yang berfungsi apabila jam tidak dipakai oleh si pemilik maka, Jam Tangan Fleksibel tersebut akan tiba-tiba mati.

User profiles
 Pelajar / Mahasiwa berumur 17-22 tahun.
• Kelas menengah ke atas
• Gaul, up to date
• Punya wawasan tekhnologi yang cukup luas
 Pekerja
• Kelas menegah ke atas
• Punya wawasan tekhnologi yang cukup luas
• Pekerja kantoran





Goal
a. Main Goal
• Sms
• Telepon
• Mp3
• 3G
• Foto
• Scan informasi
• Merekam obrolan secara otomatis
• Hologram
b. Sub Goals
• Tulis pesan
• Kotak masuk
• Kotak keluar
• Telepon masuk
• Rekam obrolan
• Telepon keluar
• Daftar main
• Ambil foto
• Dll


HTA



NAMA KELOMPOK :

1. ANGELINA VENDY ANINDITA (10108235)

2. MILA DWI PUTRI (11108243)

3. NOVI KARLINA (11108439)

4. NURMALITA RAHAYU (11108472)

KELAS : 3KA08





Minggu, 14 November 2010

membuat lingkaran

Persamaan : x2 + y2 = 100

Bentuk Umum Persamaan Lingkaran :

(x-x0)2 + ( y-y0)2 = r2

Jadi Persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut :
(x-x0)2 + (y-y0)2 = 100

x0 =0 y0 = 0 dan r = 10

Kordinat titik awal (x,r) = (0,10)

Po =Pk = 1 - r = 1 - 10 = -9

*K = 0
x = x + 1 = 0 + 1 = 1
y = 10 ( tetap karena Pk < pk =" Pk" 1 =" -9" 1 =" -6" k =" 1" x =" x" 1 =" 1" 1 =" 2" y =" 10" pk =" Pk" 1 =" -6" 1 =" -1" k =" 2" x =" x" 1 =" 2" 1 =" 3" y =" 10" pk =" Pk" 1 =" -1" 1 =" 6" k =" 3" x =" x" 1 =" 3" 1 =" 4" y =" y" 1 =" 10" 1 =" 9">= 0)
Rumus dan Perhitungan Untuk Pk >= 0
Pk = Pk + 2x + 1 - 2y
= 6 + 2(4) + 1 - 2(9) + 1
= 6 + 9 - 18
= -3

* K = 4
x = x + 1 = 4 + 1 = 5
y = 9 (tetap karena Pk < pk =" Pk" 1 =" -3" 1 =" 8" k =" 5" x =" x" 1 =" 5" 1 =" 6" y =" y" 1 =" 9" 1 =" 8">= 0)
Rumus dan Perhitungan Untuk Pk >= 0
Pk = Pk + 2x + 1 - 2y
= 8 + 2(6) + 1 - 2(8)
= 8 + 13 - 16
= 5

* K = 6
x = x + 1 = 6 + 1
y = 8 - 1 = 7 (berubah karena Pk >= 0)
Rumus dan Perhitungan Untuk Pk >= 0
Pk = Pk + 2x + 1 - 2y
= 5 + 2(7) + 1 - 2(7)
= 5 + 15 - 14
= 6
Berhenti karena x>= y

K X Y 2x 2y Pk
- 0 10 0 20 -9
0 1 10 2x 20 -6
1 2 10 4 20 -1
2 3 10 6 20 6
3 4 9 8 18 -3
4 5 9 10 18 8
5 6 8 12 16 5
6 7 7 14 14 6

grafik :



Persamaan dan Perbedaan garis, lingkaran dan elips
-Algoritma Titik Tengah/MidPoint Elips berbeda dengan lingkaran
-Pendekatannya sama dengan lingkaran,tapi berbeda dalam sampling arah.
Region 1 :
• Sampling arah x
• Pilihannya antara (xk+1, yk), or (xk+1, yk-1)
• Midpoint: (xk+1, yk-0.5)
Region 2 :
• Sampling arah y
• Pilihannya antara (xk, yk-1), or (xk+1, yk-1)
• Midpoint: (xk+0.5, yk-1)
-Elips hanya memiliki 2-way symetri sedangkan lingkaran memiliki 2-way symetri, 4-way symetri, 8-way symetri
-Fungsi Disciminator pada lingkaran
f(x,y) = 0 untuk titik di dalam lingkaran
f(x,y) > 0 untuk titik di luar lingkaran
f(x,y) = 0 untuk titik yang terletak pada lingkaran

-Fungsi Discriminator pada ellips
fe(x,y) <> 0 untuk suatu titik di luar elips
fe(x,y) = 0 untuk suatu titik pada elips
-Algoritma untuk membuat garis :
1.Menentukan titik awal (P1) dan titik akhir (P2)
2.Periksa posisi sumbu (koordinat)Jika titik ahir < class="fullpost">

Minggu, 07 November 2010

paragraf

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas tentang “Paragraf”.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai paragraf serta sebagai salah satu syarat pemenuhan standar SAP pada mata kuliah Bahasa Indonesia.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.



Depok, Oktober 2010

Penyusun




PENDAHULUAN

Paragraf (Alenia) merupakan kumpulan suatu kesatuan pikiran yang lebih luas dari pada kalimat. Alenia merupakan kumpulan kalimat, tetapi kalimat yang bukan sekedar berkumpul, melainkan berhubungan antara yang satu dengan yang lain dalam suatu rangkaian yang membentuk suatu kalimat.
Paragraf adalah suatu penuangan ide penulis melalui kalimat atau kumpulan alimat yang satu dengan yang lain yang berkaitan dan hanya memiliki suatu topik atau tema. Paragraf juga disebut sebagai karangan singkat.
Dalam paragraf terkandung satu unit pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam kalimat tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama atau kalimat topik, dan kalimat penjelas sampai kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling berkaitan dalam satu rangkaian untuk membentuk suatu gagasan. Panjang pendek suatu paragraf dapat ditentukan oleh banyak sedikitnya gagasan pokok yang diungkapkan.












PARAGRAF
1. Pengetian paragraf
Paragraf merupakan Karangan yang pendek / singkat yang berisi sebuah pikiran dan didukung himpunan kalimat yang saling berhubungan untuk membentuk satu gagasan. Paragraf (alenia) adalah sekumpulan kalimat yang tersusun secara logis dan runtun (sistematis), yang memungkinkan suatu gagasan pokok dapat dikomunikasikan kepada pembaca secara efektif. Paragraf merupakan satuan terkecil sebuah karangan. Isinya membentuk satuan pikiran sebagai bagian dari pesan yang disampaikan penulis dalam karangannya. Paragraf yang tidak jelas susunannya akan menyulitkan pembaca untuk menangkap pikiran penulis. Meskipun singkat, oleh karena ada isi pikiran yang hendak disampaikan, paragraf membutuhkan organisasi dan susunan yang khas. Di samping itu, karena paragraf merupakan bagian dari suatu pasal, maka antara paragraf satu dengan yang lain harus saling berhubungan secara harmonis, sehingga sesuai dengan rangka keseluruhan karangan. Oleh karena itu, sebuah karangan hanya akan baik jika paragrafnya ditulis dengan baik dan dirangkai dalam runtunan yang logis.
2. Kelengkapan paragraf
Paragraph dikatakan lengkap, jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik/ kalimat.Dalam suatu paragraf, pernyataan pokok (kalimat topik) diikuti oleh sejumlah pernyataan pendukungnya. Pernyataan pendukung tersebut harus cukup rinci sehingga gagasan utama yang akan dikomunikasikan menjadi jelas bagai pembaca. Rincian yang terlalu sedikit akan menyulitkan pembaca memahami isi paragraf. Sebaliknya, rincian yang berlebih-lebihan tidak akan membuat paragraf lebih jelas, bahkan rincian yang bertele-tele akan menjemukan pembaca. Oleh karena itu pilihlah rincian yang cocok dengan pokok bahasan, dan jumlahnya memadai sehingga terbentuk paragraf yang hemat.
Panjang pendeknya paragraf tergantung sepenuhnya pada kedalaman isi pikiran atau gagasan pokok yang akan dikomunikasikan, dan “daya baca” pembaca yang menjadi sasaran tulisan. Sebuah paragraf harus mampu menjelaskan gagasan pokok secara tuntas. Apabila satu kalimat dipandang belum dapat menjelaskannya, maka perlu ditambah dengan kalimat kedua, ketiga dan seterusnya, sampai menjadi jelas. Paragraf yang terlalu pendek (terdiri atas satu atau dua kalimat) seringkali tidak cukup mampu menjelaskan gagasan pokok senyatanya. Sedangkan, paragraf yang terlampau panjang dan berbelit-belit justru akan mengaburkan gagasan pokok yang seharusnya ditonjolkan. Paragraf surat kabar umumnya pendek-pendek (20-40 kata) karena harus dapat dibaca cepat oleh berbagai lapisan masyarakat. Majalah populer umumnya menggunakan paragraf yang panjangnya 100-150 kata. Pada umumnya buku ajar perguruan tinggi memiliki panjang paragraf antara 75 dan 200 kata.

3. Pola susunan paragraf

Paragraf merupakan rangkaian kalimat yang tersusun dengan pola runtunan tertentu, antara lain:

Pola runtunan waktu
Pola susunan ini biasanya dipakai untuk memerikan (mendeskripsikan) suatu peristiwa atau prosedur membuat atau melakukan sesuatu selangkah demi selangkah. Misalnya cara melakukan percobaan, menyelesaikan masalah, dan menggunakan suatu alat. Pola susunan ini ditandai dengan “rambu” yang menyatakan runtunan waktu, seperti pertama, mula-mula, lalu, kemudian, setelah itu, sambil, seraya, selanjutnya, dsb.
Pola runtunan ruang
Apabila penulis menggunakan pola runtunan ruang secara umum, ia akan menggunakan kata seperti di sebelah kiri, sedikit di atas, agak menjorok ke dalam, dsb. Apabila penulis menggunakan pola ini secara pasti, maka ia dapat menyebutkan ukurannya, misalnya sepuluh sentimeter di atasnya, menjorok ke dalam 1 m, membentuk sudut 45 derajat, dsb.
Pola susunan sebab-akibat
Pola susunan paragraf ini digunakan antara lain untuk (1) mengemukakan alasan secara logis, (2) mendeskripsikan suatu proses, (3) menerangkan sebab bagi suatu peristiwa atau fenomena, (4) memprakirakan peristiwa yang akan terjadi. Beberapa rambu dalam pola susunan ini adalah jadi, karena itu, dengan demikian, karena, mengakibatkan, akibatnya, menghasilkan, sehingga, dll.
Pola susunan pembandingan
Pola ini digunakan untuk membandingkan dua perkara atau lebih, yang di satu pihak mempunyai kesamaan, sedangkan di pihak lain kebedaan. Pembadingan ditandai dengan rambu seperti tetapi, apalagi, berbeda dengan, demikian pula, sedangkan, sementara itu.
Pola susunan daftar
Suatu paragraf dapat pula memuat rincian yang diungkapkan dalam bentuk daftar. Susunan daftar dapat berformat (berderet ke bawah) atau tidak (membaur di dalam paragraf itu sendiri, sehingga tak terlihat jelas sebagai daftar. Baik berformat maupun tidak, kalimat-kalimat rincian perlu seiring dan berhubungan secara mulus dengan kalimat induknya.
Pola susunan contoh
Banyak gagasan yang memerlukan contoh, sehingga kalimat-kalimat rinciannya mengemukakan contoh-contoh, yang adakalanya diawali dengan kata misalnya atau contohnya, tetapi adakalanya tidak.
Pola susunan bergambar
Terdapat pernyataan yang dilengkapi dengan gambar (bagan, tabel, grafik, diagram, dsb.) untuk memperjelas maksud pernyataan tertulisnya.Dalam kaitan itu perlu dicantumkan penunjukan kepada gambar bersangkutan supaya pembaca mengetahui gambar yang harus dilihatnya..

4. Perpautan antarkalimat

Paragraf yang baik memiliki kesetalian atau keterpautan, yang mengikat pernyataan di dalamnya menurut runtunan yang logis. Ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk memperpautkan kalimat agar diperoleh paragraf yang setali, antara lain sebagai berikut:

mengulang kata dari kalimat yang satu pada kalimat berikutnya, misalnya obyek pada kalimat pertama menjadi subyek pada kalimat kedua;

menggabung dua kalimat atau lebih menjadi sebuah kalimat majemuk;

menggunakan perangkai (jadi, contohnya, seperti, sebagai gambaran, selain itu, kedua, lagi pula, selanjutnya, juga, akhirnya, di satu pihak, dipihak lain, sebaliknya, sekalipun begitu, tetapi, oleh karena itu, kesimpulannya, dengan demikian, dengan kata lain, dsb.;

menggunakan pokok kalimat yang tetap dalam seluruh paragraf dengan kata yang sama, dengan sinonim, atau dengan kata ganti;

menggunakan bangun perkalimatan yang seiring.

5. Jenis paragraf

Dalam paragraph terdapat beberapa jenis,yaitu :

a. Paragraf lantas (langsung)

Paragraf dimulai dengan pernyataan tentang pokok bahasan (kalimat topik), sehingga paragraf menyampaikan informasi secara lugas kepada pembaca. Kalimat-kalimat berikutnya merupakan rincian untuk memperjelas paparan atau memperkuat argumentasi terhadap pokok bahasan (deduktif).

b. Paragraf rampat

Pokok bahasan pada paragraf rampat terdapat pada bagian akhir setelah didahului dengan serangkaian rincian. Paragraf rampat mengajak pembaca secara induktif menarik kesimpulan berdasarkan fakta atau pendapat yang diketengahkan sebelumnya.

c. Paragraf rincian

Jenis paragraf ini tidak mempunyai pernyataan pokok bahasan, tetapi seluruhnya terdiri atas pernyataan rincian. Biasanya paragraf jenis ini tidak berdiri sendiri, melainkan sebagai lanjutan dari paragraf sebelumnya yang memiliki pokok bahasan.


d. Paragraf tanya

Paragraf tanya dibuka dengan pertanyaan, yang menunjuk kepada pokok bahasan yang akan dipaparkan, atau sebagai peralihan dari gagasan yang satu kepada yang berikutnya. Pertanyaan diajukan untuk membangkitkan keingintahuan pembaca. Selanjutnya pertanyaan itu dijawab sendiri oleh penulis melalui rincian-rincian berikutnya.

6. Tugas Paragraf
Sebuah karangan diawali dengan paragraf pembuka, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian paragraf pengembang yang diselingi satu sama lain dengan paragraf perangkai, dan akhirnya ditutup dengan paragraf pemungkas (penutup).Paragraf pembuka dapat diibaratkan dengan pintu gerbang, yang harus dibangun dengan baik sehingga orang tertarik. Penulis harus berusaha untuk menulis paragraf pembuka sebaik-baiknya. Dengan paragraf itu, ia memberikan gambaran singkat tentang perkara yang dibahas dalam tulisannya, atau mencoba membangkitkan perhatian pembaca agar tertarik untuk membaca seluruh karyanya.Paragraf perangkai tugasnya meluweskan peralihan dari pembahasan hal yang satu kepada yang lain. Paragraf perangkai biasanya muncul pada saat pengarang mengakhiri satu bagian dari uraiannya, dan hendak beralih pada uraian yang lain.
Paragraf pemungkas menutup sebuah karangan, dan dengan sendirinya harus benar-benar menutup dengan wajar. Janganlah dirasakan oleh pembaca seolah-olah karangan itu putus di tengah jalan, atau karangan itu belum selesai. Biasanya paragraf pemungkas menyajikan kesimpulan, saran, atau harapan penulis. Pada sejumlah karangan yang baik tampak adanya hubungan antara paragaraf pembuka dan pemungkas.
7. Perpautan antarparagraf
Paragraf mengemukakan satu penggalan pikiran yang bulat, dan sebagai penggalan pikiran paragraf yang satu terpisah dari paragraf yang lain. Sementara itu, sebagai penggalan pikiran pula paragraf merupakan mata rantai dari rangkaian paragraf yang menyajikan gagasan-gagasan pengarang secara beruntun dengan tertib dan logis. Dalam pada itu pengarang menggunakan unsur perangkai yang memperpautkan paragraf yang satu kepada yang berikutnya. Perangkai tersebut dapat berupa kata yang diulang, kata rangkai, sebuah kalimat, atau bahkan sebuah paragraf.
a Pengulangan kata sebagai perangkai
Mengulang kata atau pokok karangan dari paragraf yang satu pada paragraf berikutnya merupakan cara yang baik untuk memperpautkan berbagai paragraf dalam sebuah karangan. Ketika pembaca beralih membaca dari paragraf yang satu kepada paragaraf berikutnya, ia diingatkan oleh kata yang diulang itu kepada perkara yang dibacanya pada paragraf terdahulu. Dengan demikian gagasan pada paragraf yang sedang dibacanya tidak terlepas dari gagasan yang mendahuluinya.
b Kata rangkai
Cara lain untuk memperpautkan sebuah paragraf pada paragraf yang mendahuluinya ialah dengan menggunakan kata atau gugus kata rangkai pada awal kalimat pertamanya. Kata atau gugus kata rangkai yang sering dipakai untuk memperpautkan paragraf, misalnya, anehnya, sementara itu, sebaliknya, namun, sebagaimana dikatakan di muka, sehubungan dengan hal itu.
c Kalimat sebagai perangkai
Perangkai dapat pula berupa sebuah kalimat berdiri sendiri sebagai paragraf. Isinya dapat merupakan kesimpulan uraian sebelumya.
d Paragraf sebagai perangkai
Perangkai dapat pula berupa sebuah peragraf utuh atau pendek. Paragraf seperti itu biasanya muncul pada saat pengarang mengakhiri satu bagian dari bahasannya, dan hendak berpindah pada bahasan yang lain. Cara menggunakannya dapat bermacam-macam. Paragraf dapat berupa ringkasan perkara yang dibahas sebelumnya, satu atau beberapa contoh mengenai masalah yang telah dibahas, atau dapat pula memperkenalkan bahasan selanjutnya.

8. Syarat-syarat pembentukan paragraf :
Kesatuan : tiap paragraf hanya mengandung satu pikiran / satu tema.
 Fungsi paragraf : mengembangkan tema.
 Koherensi / kepaduan = hubungan antara kalimat dengan kalimat.
9. Kepaduan dalam kalimat dapat dibangun dengan memperhatikan :
 Perincian dan urutan isi paragraf :
a. urutan waktu
b. urutan logis
c. urutan ruang
d. urutan proses
e. sudut pandangan/ point of view
 Unsur- Unsur Kebahasan
1. Repetisi : pengulangan kata-kata yang dianggap cukup penting atau menjadi topik pembahasan.
2. Kata ganti : kata yang dipakai untuk menggantikan subyek pembicaraan.
Macam-macam kata ganti :
a. kata ganti orang pertama (I) : aku, saya, ku,
b. kata ganti orang kedua (II) : kamu, mu,kamu sekalian,
c. kata ganti orang ketiga (III) : Anda, Dia,Beliau,mereka, nya.
 Kata transisi : kata yang berada di antara kata ganti dan kata repetisi.
Macam-macam kata transisi :
a. berhubungan dengan pertambahan;
b. berhubungan dengan perbandingan;
c. berhubungan dengan pertentangan;
d. berhubungan dengan tempat;
e. berhubungan dengan tujuan;
f. berhubungan dengan waktu;
g. berhubungan dengan singkatan.
10. Macam - Macam Paragraf
Menurut fungsinya
a. paragraf pembuka sebagai sarana menyampaikan ide atau gagasan,
b. paragraf penjelas yang merupakan beberan untuk menjelaskan ide, serta
c. paragraf penutup yang menjadi kesimpulan dari dua paragraf sebelumnya2.
Menurut posisi kalimat topik :
a. paragraf deduktif
b. paragraf induktif
c. paragraf deduktif – induktif
d. paragraf tersebar
Berdasarkan sifat isinya :
a. paragraf argumentasi
b. paragraf narasi
c. paragraf persuasi
d. paragraf eksposisi
e. paragraf deskripsi.
11. Pengembangan Paragraf
Pengembangan paragraf mencakup dua hal:
a. Kemampuan memerinci secara maksimal gagasan utama alinea ke dalam gagasan-gagasan bawahan;
b. Kemampuan mengurutkan gagasan-gagasan bawahan ke dalam suatu urutan yang teratur.
12. Macam-macam Metode Pengembangan Paragraf
1. Klimaks dan Anti Klimaks
2. Sudut Pandangan / Point of View
3. Proses
4. Perbandingan dan Pertentangan
5. Analogi
6. Contoh
7. Kausal
8. Umum-Khusus / Khusus-Umum
9. Klasifikasi
10. Definisi Luas
13. Teknik Menyusun Paragraf

Teknik menyusun pargraf dapat dilakukan melalui dua cara yaitu, secara horisontal yang artinya bagaimana menghubungkan antar kalimat dalam satu paragraf, sedangkan secara vertikal adalah menghubungkan antar paragraf. Kedua cara ini membutuhkan unsur pemadu agar koheren dan utuh. Jika digambarkan unsure pemadu horisontal dan vertikal ialah sebagai berikut :

14. Contoh-contoh pengembangan paragraf secara horisontal :

Secara deduktif yang merupakan cara berpikir dari hal yang umum menuju ke hal
yang khusus :

Teknologi nirkabel memberi peluang bagi pengguna untuk mengakses Internet dari perangkat bergerak seperti laptop, PDA dan ponsel. Perangkat-perangkat bergerak tersebut telah dilengkapi dengan fitur-fitur khusus seperti kapasitas memori lebih besar dan didukung layanan akses cepat seperti HSDPA bagi ponsel 3G.

Secara induktif yang merupakan cara berpikir dari hal khusus menuju ke hal yang umum:

CRM tipe operasional adalah layanan pelanggan secara langsung atau tidak. Tipe lain adalah tipe analitik memberikan informasi sesuai dengan kebutuhan pelanggan, dan tipe kolaborasi
memberi kesempatan pelanggan untuk member kontribusi pada layanan. Ketiga tipe tersebut menekankan pada layanan kepada pelanggan yang berpusat pada pelanggan. Itulah salah satu hal
dari konsep CRM.

memulai dengan pendapat orang lain atau pendapat pribadi :

Menurut Kent Beck, extreme programming(XP)merupakan model proses yang mempercepat proses rekayasa perangkat lunak. XP memungkinkan pengujian modul dan pengkodean dilakukan bersama.

membandingkan, menyamakan, atau mempertentangkan:

Berbeda dengan model proses spiral, model proses waterfall tidak mementingkan analisis resiko dalam proses rekayasa perangkat lunak. Selain itu, kemungkinan proyek dihentikan dalam proses dapat terjadi dalam model proses spiral tetapi tidak pada model proses waterfall.

membuat pembatasan atau definisi :

Perangkat lunak skala kecil adalah perangkat lunak dengan jumlah baris perintah maksimal 300.000 baris. Jumlah kebutuhan yang dipenuhidalam skala ini juga tidak memiliki batasan pasti
karena disesuaikan dengan kebutuhan kasus.

memberi ilustrasi atau contoh :

Proyek rekayasa perangkat lunak yang menggunakan model proses spiral adalah proyek yang memiliki resiko tinggi.Proyek dengan resiko tinggi mempengaruhi kehidupan manusia seperti misalnya perangkat lunak berkaitan dengan alatalat kesehatan, atau keselamatan kerja.

15. Contoh-contoh paragraf yang dikembangkan secara vertikal :

a. Pergantian gagasan :

Seperti telah diuraikan di atas. . . .
Sehubungan dengan penjelasan di atas . . . .

b. Penjelasan teori atau pandangan lain :

Menurut pendapat . . . . .
Berkaitan dengan pandangan . . . . maka .. . .

c. Untuk menjelaskan argumen :

Menurut hemat penulis, komunikasi data dapat
dilakukan tanpa . . .
Hal yang perlu dipertimbangkan jika
menggunakan modem internal . . . .

d. Penjelasan tempat :

Hal yang telah dipaparkan di atas terdapat
pula pada . . . .
5. Uraian waktu :
Pada tahun 1947 Bell Labs menemukan
transistor . .
Penemuan transistor generasi pertama berbeda
dengan . . .

e. Untuk menjelaskan sebab-akibat :

Penggunaan transistor dimungkinkan karena ..

f. Untuk memperluas uraian :

Berkaitan dengan penjelasan di atas . . .
Di atas dikatakan bahwa . . . .
Penjelasan di atas telah membawa . . .

g. Untuk membandingkan :

Apabila dibandingkan dengan penemuan
sebelumnya . . . .
Pendapat X jika dibandindkan pendapat Y ..

h. Ingin mengritik atau mendukung :

Berdasarkan uraian tersebut, penulis sependapat
bahwa IBM bukanlah penemu tabung
vakum . . . . .



i. Ingin memerinci sebab, proses, atau penjelasan :

Hal itu disebabkan karena . . . .
Faktor penyebab yang dapat diketengahkan
ialah . . . .
Proses . . . . dapat dijelaskan sebagai
Berikut

j. Ingin menyimpulkan :

Berdasarkan uraian di atas . . .
Kesimpulan yang dapat ditarik . . . .
Atas dasar perhitungan dapat ditarik
kesimpulan . . . .

KESIMPULAN


Paragraf (Alenia) merupakan kumpulan suatu kesatuan pikiran yang lebih luas dari pada kalimat. Alenia merupakan kumpulan kalimat, tetapi kalimat yang bukan sekedar berkumpul, melainkan berhubungan antara yang satu dengan yang lain dalam suatu rangkaian yang membentuk suatu kalimat. Paragraf berisi sebuah pikiran dan didukung himpunan kalimat yang saling berhubungan untuk membentuk satu gagasan.
Tiap alenia hanya mengandung satu gagasan pokok atau satu topik. Fungsi alenia adalah mengembangkan gagasan pokok atau topik tersebut. Oleh karena itu, dalam pengembangannya tidak boleh ada unsur-unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik atau gagasan tersebut.
Alenia dianggap mempunyai kesatuan, jika kalimat-kalimat dalam alenia itu tidak telepas dari topiknya atau selalu relevan dengan topik.
Alinea harus dipenuhi oleh sebuah koherensi atau kepaduan, yakni adanya hubungan yang harmonis, yang memperlihatkan kesatuan kebersamaan antara satu kalimat dengan kalimat yang lainnya dalam sebuah alenia. Alenia yang memiliki koherensi akan sangat memudahkan pembaca mengikuti alur pembahasan yang disuguhkan. Ketiadaan koherensi dalam sebuah alenia akan menyulitkan pembaca untuk menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lainnya.


Sabtu, 09 Oktober 2010

PENEBANGAN LIAR (ILEGAL LOGGING) DI HUTAN INDONESIA

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan hidayahNya sehingga penulis mempunyai kesempatan untuk menulis makalah yang berjudul PENEBANGAN LIAR (ILEGAL LOGGING) DI HUTAN INDONESIA.

Adapun maksud dan penyusunan makalah ini merupakan salah satu syarat guna memperoleh nilai dalam mata kuliah Bahasa Indonesia. Banyak kesulitan dan hambatan yang dihadapi penulis dalam pembuatan makalah ini. Namun berkat dukungan dan bantuan semua pihak, akhirnya kesulitan dapat terselesaikan dengan baik.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak – pihak yang telah memberikan bantuan dan dorongan, baik secara langsung maupun tidak langsung demi tersusunnya makalah ini, yaitu :

1. Bapak Sangsang Sangabakti

2. Orang tua, kakak, adik, serta orang terdekat yang selalu memberikan dukungan baik secara moril dan materil.

Akhir kata penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, mengingat makalah ini masih jauh dari sempurna dan kiranya makalah ini dapat berguna bagi yang memerlukan.

Depok, 11 oktober 2010
Penulis


(Novi Karlina)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI……………………………………………………………….. i

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………... 1

BAB II

A. PEMBAHASAN…………………………………………………………. 2

B. MANFAAT HUTAN…………………………………………………….. 2

C. SITUASI HUTAN INDONESIA………………………………………... 3

D. AKIBAT PENEBANGAN HUTAN…………………………………….. 4

E. PENCEGAHAN PENEBANGAN HUTAN…………………………….. 4

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN……………………………………………………………. 7

B. SARAN…………………………………………………………………….. 7

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

Hutan merupakan ciptaan Tuhan yang tiada nilainya. Setiap ciptaan Tuhan pasti ada manfaatnya, terutama manfaat bagi kehidupan. Baik itu manfaat bagi manusia maupun manfaat bagi zat hidup lainnya sebagai bagian dari ciptaan Tuhan. Selain bermanfaat bagi kehidupan, hutan juga mempunyai fungsi pokok yaitu sosio - ekonomi, hidro - orologi dan estetika. Fungsi sosio -ekonomi menempatkan hutan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan jalan memanfaatkan hutan dengan sebaik-baiknya. Pemanfaatan hutan dengan menggunakan kaidah-kaidah dan norma-norma yang berlaku menjadikan hutan akan lebih lestari (sustainable) dan akan bermanfaat bagi kepentingan generasi yang akan dating. Fungsi hidro – orologi menempatkan hutan sebagai tonggak dan penopang pengaturan tata air dan perlindungan tanah, yang pada prinsipnya merupakan bagian yang terpenting dan tidak dapat dipisahkan bagi kehidupan. Fungsi estetika menempatkan hutan sebagai pelindung alam dan lingkungan dan menjadikan hutan sebagai paru-paru dunia. Namun demikian dalam era globalisasi sekarang ini, kecenderungan masyarakat untuk memanfaatkan hutan, lebih dititik beratkan pada kepentingan sosio – ekonomi dengan mengabaikan fungsi hidro – orologi maupun fungsi estetika.

Pemanfaatan hutan yang cenderung lebih dititik beratkan pada kepentingan sosio - ekonomi telah banyak memberikan dampak yang negatif bagi fungsi hutan itu sendiri maupun bagi kehidupan. Penebangan – penebangan yang dilakukan tanpa menggunakan kaidah – kaidah dan norma – norma yang berlaku, yang sering disebut sebagai penebangan liar atau illegal - logging, menjadikan hutan kehilangan fungsi pokoknya. Akibat lebih lanjut dari hilangnya fungsi hutan ini adalah banyak terjadi banjir, tanah longsor, turunnya mutu tanah, perambahan hutan yang berakibat semakin menyempitnya areal hutan, berkurangnya pendapatan masyarakat disekitar hutan, dan dampak selanjutnya adalah berkurangnya kemampuan biosfer menyerap CO2 yang berakibat pada penambahan tinggi suhu dipermukaan bumi atau sering disebut sebagai pemanasan global, sehingga tidak menempatkan lagi hutan sebagai paru-paru dunia.

BAB II

A. PEMBAHASAN

Hutan adalah suatu wilayah yang memiliki banyak tumbuh-tumbuhan lebat yang berisi antara lain pohon, semak, paku-pakuan, rumput, jamur dan lain sebagainya serta menempati daerah yang cukup luas. Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kawasan hutan yang sangat luas.

B. MANFAAT HUTAN

Hutan di Indonesia sangat berperan penting dalam kelangsungan hidup satwa dan puspa yang ada di dalamnya. Selain itu, keberadaan hutan di Indoneisa ini juga berfunsgi untuk melestarikan beraneka ragam potensi satwa dan puspa di Indoensia. Berikut ini manfaat dari adanya keberadaan hutan :


1. Manfaat/Fungsi Ekonomi
- Hasil hutan dapat dijual langsung atau diolah menjadi berbagai barang yang bernilai tinggi.
- Membuka lapangan pekerjaan bagi pembalak hutan legal.
- Menyumbang devisa negara dari hasil penjualan produk hasil hutan ke luar negeri.


2. Manfaat/Fungsi Klimatologis
- Hutan dapat mengatur iklim
- Hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia yang menghasilkan oksigen bagi kehidupan.


3. Manfaat/Fungsi Hidrolis
- Dapat menampung air hujan di dalam tanah
- Mencegah intrusi air laut yang asin
- Menjadi pengatur tata air tanah


4. Manfaat/Fungsi Ekologis
- Mencegah erosi dan banjir
- Menjaga dan mempertahankan kesuburan tanah
- sebagai wilayah untuk melestarikan kenaekaragaman hayati

C. SITUASI HUTAN INDONESIA

Kedaan hutan yang berada di indonesia yang di ketahui sejauh ini memang sangat mengecewakan . Seperti di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya. Contonnya di hutan Kalimantan: Dalam konteks kajian kehutanan untuk daerah Kalimantan, posisi hutan Kalimantan Selatan benar-benar tidak diperhitungkan. Sebabnya, karena sudah habis, setidak-tidaknya hampir habis dan jika masih ada, itu pun tak seberapa jumlahnya sehingga hutan kalimantan ini sudah hampir tidak di anggan lagi .Padahal, tahun 2003 deforestasi di Kalimantan menjadi salah satu catatan besar dunia. Memang di atas angka, deforestasi hutan Kalimantan Selatan tak sebanding dengan tiga provinsi lainnya. Dari deforestasi seluruh Indonesia 3,6 juta hektar (ha) per tahun, Kalimantan Tengah menyumbang 400.000 ha per tahun, Kalimantan Barat 250.000 ha per tahun, Kalimantan Timur 200.000 ha per tahun, dan Kalsel hampir tidak ada. Namun, Kalsel sebagai provinsi yang masih memiliki beberapa industri perkayuan hingga kini masih eksis dengan kapasitas produksi 2,14 juta meter kubik per tahun. Luas kawasan hutan berdasar Perda Kalsel Nomor 9 Tahun 2000 masih tercatat lumayan, 1,66 juta ha. Terdiri atas 574.637 ha hutan lindung, 176.615 ha hutan wisata, 212.177 hutan produksi terbatas, 627.672 ha hutan produksi, dan 67.902 ha hutan produksi konversi. Kini, luas kawasan hutan itu diperkirakan tinggal 1,2 juta ha. Namun, data Forest Watch Indonesia (FWI) tahun 1990-an mencatat kawasan hutan di Kalsel yang tak teralokasikan tinggal 667.951 ha dari total wilayah Kalsel lebih dari tiga juta ha. Sisanya merupakan hutan terdegradasi dan hutan yang sudah gundul. Meski demikian, tidak ada yang mencari solusi soal kondisi kawasan hutan di Kalsel yang di beberapa tempat kini mulai menurun. Tapi, di beberapa lokasi yang masih dianggap berhutan, penebangan liar terus berlangsung. Hal yang mengejutkan adalah sebagian besar kayu yang diangkut merupakan kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang langka dan dilindungi. Selain dilarang diperdagangkan antarpulau, kayu ulin dengan diameter 60 sentimeter juga dilindungi dan dilarang ditebang berdasarkan Surat Keterangan Menteri Pertanian Nomor 54/Kpts/Um/2/1972. Diduga, di balik pencurian kayu ulin itu ada jaringan penyelundupan antarpulau yang lama beroperasi dan mengirimkan hasil tebangan ke luar pulau.

D. AKIBAT PENEBANGAN HUTAN

Saat ini, hanya kurang dari separuh Indonesia yang memiliki hutan, merepresentasikan penurunan signifikan dari luasnya hutan pada awalnya. Antara 1990 dan 2005, negara Indonesia telah kehilangan lebih dari 28 juta hektar hutan, termasuk 21,7 persen hutan perawan. Penurunan hutan-hutan primer yang kaya secara biologi ini adalah yang kedua di bawah Brazil pada masa itu, dan sejak akhir 1990an, penggusuran hutan primer makin meningkat hingga 26 persen. Kini, hutan-hutan Indonesia adalah beberapa hutan yang paling terancam di muka bumi.
Jumlah hutan-hutan di Indonesia sekarang ini makin turun dan banyak dihancurkan akibat penebangan hutan, penambangan, perkebunan agrikultur dalam skala besar, kolonisasi, dan aktivitas lain yang substansial, seperti memindahkan pertanian dan menebang kayu untuk bahan bakar. Luas hutan hujan semakin menurun, mulai tahun 1960an ketika 82 persen luas negara ditutupi oleh hutan hujan, menjadi 68 persen di tahun 1982, menjadi 53 persen di tahun 1995, dan 49 persen saat ini.

E. PENCEGAHAN PENEBANGAN HUTAN

Hutan-hutan Indonesia menghadapi masa depan yang suram. Walau negara tersebut memiliki 400 daerah yang dilindungi, namun kesucian dari kekayaan alam ini seperti tidak ada. Dengan kehidupan alam liar, hutan, tebing karang, atraksi kultural, dan laut yang hangat, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk eko-turisme, namun sampai saat ini kebanyakan pariwisata terfokus pada sekedar liburan di pantai. Sex-tourism merupakan masalah di beberapa bagian negara, dan pariwisata itu sendiri telah menyebabkan permasalahan-permasalahan sosial dan lingkungan hidup, mulai dari pembukaan hutan, penataan bakau, polusi.
Melihat dampak dari penebangan hutan secara liar tersebut,maka perlu adanya suatu cara untuk mencegah terjadinya hal tersebut. Dalam hal ini, penulis ingin memberikan kontribusi dalam menyikapi adanya penebangan hutan tersebut dengan cara pendekatan secara neo-humanis. Di bawah ini akan diuraikan beberapa pendekatan neo-humanis dalam mencegah dan mengurangi terjadinya penebangan hutan secara liar :


1. Penduduk lokal biasanya bergantung pada penebangan hutan di hutan hujan untuk kayu bakar dan bahan bangunan. Pada masa lalu, praktek-praktek semacam itu biasanya tidak terlalu merusak ekosistem. Bagaimanapun, saat ini wilayah dengan populasi manusia yang besar, curamnya peningkatan jumlah orang yang menebangi pohon di suatu wilayah hutan hujan bisa jadi sangat merusak. Sebagai contoh, beberapa wilayah di hutan-hutan di sekitar kamp-kamp pengungsian di Afrika Tengah (Rwanda dan Congo) benar-benar telah kehilangan seluruh pohonnya. Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan dan penyuluhan kepada penduduk setempat tentang betapa pentingnya keberadaan hutan bagi kehidupan semua umat.


2. Dalam hal penebangan hutan secara konservatif, denagn cara menebang pohon yang sudah tidak berproduktif lagi. Jangan sampai pohon yang masih muda dan masih berproduktif ditebang. Selain itu, sebaiknya masyarakat sekitar perlu diberi arahan dalam penebangan pohon, di antaranya larangan untuk menebang pohon yang sebagai plasa nutfah. Selanjutnya, setiap menebang satu pohon, harus seerag menaggabti denagn menamam pohon kembali sebanyak satu pohon.

3. Melakukan pembenahan terhadap sistem hukum yang mengatur tentang pengelolaan hutan menuju sistem hukum yang responsif yang didasari prinsip-prinsip keterpaduan, pengakuan hak-hak asasi manusia, serta keseimbangan ekologis, ekonomis, dan pendekatan neo-humanisme.


4. Selanjutnya perlu adanya suatu program peningkatan peranan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian hutan. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan peranan dan kepedulian pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup. Dalam upaya pemberdayaan masyarakat lokal harus diselenggarakan dan difasilitasi berbagai pelatihan untuk meningkatkan kepedulian lingkungan di kalangan masyarakat, seperti pelatihan pengendalian kerusakan hutan bagi masyarakat dan pelatihan lingkungan hidup untuk para tokoh dalam masyarakat.


5. Melalui pendekatan neo-humanisme ini, juga perlu dibentuk suatu kelompok peduli hutan dalam masyarakat yang bertugas memantau keadaan hutan di sekitarnya dan melakukan pelestarian hutan, kemudian menularkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh dari berbagai pelatihan manajerial kehutanan kepada masyrakat di sekitarnya, sehingga nantinya akan ada rasa saling memiliki dengan adanya keberadaan hutan tersebut.


6. Melakukan program reboisasi secara rutin dan pemantauan tiap bulannya dengan dikoordinir oleh tokoh-tokoh masyarkat setempat. Dengan adanya pemantauan tersebut, maka hasil kerja keras dari reboisasi yang telah dilaksanakan akan tetap terpantau secara rutin mengenai perkembanganya dan potensi ke depannya.


7. Selain itu, perlu adanya inovasi pelatihan keterampilan kerja di masyarakat secara gratis dan rutin dari pihak-pihak yang terkait, seperti Dinas Tenaga Kerja,dll, sehingga masyarakat tidak hanya bergantung pada hasil hutan saja, tetapi dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan dimilikinya.


BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kawasan hutan yang sangat luas. Hutan juga sangat berarti untuk kita semua. Namun, jika kita melakukan hal seperti penebangan liar. Semua, bencana yang terjadi di Indonesia adalah hasil dari ulah manusia itu sendiri. Makin hari makin sedikit hutan yang berada di Indonesia. Bahkan, hutan di Kalimantan yang pernah menjadi salah satu hutan terbesar di dunia bisa, hilang gelarnya hanya karena, ulah manusia – manusia. Itu semua bisa kita cegah dengan pendekatan neo-humanis.

B. SARAN

1. Kita sebagai manusia membutuhkan kehidupan sehat, dengan begitu lestarikanlah sisa hutan di Indonesia dengan cara menanam seribu pohon, tidak menebang pohon secara liar.

2. Penegakan hukum di Indonesia harus lebih di tegakan dalam memberantas para penebang liar karena, jika didiamkan terus menerus maka, hutan di Indonesia pun akan habis.

3. Pemerintah harus lebih bijak dalam mengatasi masalah ini peraturan pun harus dijalankan agar, penebangan liar bisa dihentikan.

DAFTAR PUSTAKA

· Djoko_wijanto

· www.google.com

· Matiusfanny.blogspot.com

Senin, 04 Oktober 2010

Pengolahan Citra Di Dibidang Militer Pada Teropong Malam Hari (Night Vision)

pengertian



Teropong malam atau Night vision binocular / monocular adalah alat yang digunakan untuk pengintaian di malam hari tanpa ada cahaya. Biasa digunakan untuk berburu atau operasi militer di malam hari. Meskipun sering digunakan oleh organisasi militer, teropong malam yang tersedia untuk warga sipil. Alasan mengapa teropong malam di militer kini telah menjadi bagian yang diharapkan dari peperangan modern karena dapat memungkinkan pemakainya untuk melihat gambar dalam gelap yang tidak dapat dilihat hanya dengan mata telanjang. Gambar-gambar yang terus bergerak.

Sejarah teropong malam dalam militer

Teropong memiliki sejarah panjang digunakan militer. Di desain oleh Galileo sehingga terkenal s secara luas digunakan sampai akhir abad ke-19 .. Teropong dibangun untuk penggunaan militer umum cenderung lebih berat dari pada rekan-rekan sipil mereka Mereka umumnya menghindari pengaturan fokus pusat lebih rapuh mendukung fokus independen, yang juga membuat untuk lebih mudah, atap yang bocor lebih efektif. dalam teropong militer mungkin memiliki lapisan aluminiun berlebihan pada prisma mereka set untuk menjamin mereka tidak kehilangan kualitas reflektif mereka jika mereka basah. Salah satu bentuk varian disebut "teropong parit", kombinasi teropong dan periskop artileri sering digunakan untuk tujuan yang terkena bercak tujuan hanya beberapa inci di atas tembok pembatas, menjaga kepala agar aman dalam parit itu. teropong Militer era Perang Dingin kadang-kadang dilengkapi dengan sensor pasif yang terdeteksi aktif , sementara yang modern biasanya dilengkapi dengan filter memblokir sinar laser digunakan untuk sebagai senjata. Selanjutnya, teropong dirancang untuk penggunaan militer mungkin termasuk dalam satu mata untuk memfasilitasi jangkauan dalam penglihatannya.

Tujuan teropong malam

teropong malam terutama digunakan untuk tujuan militer, dan membantu melindungi dan menjaga personil bersenjata dari kemungkinan bahaya di medan pertempuran. teropong Malam adalah salah satu penemuan panas perangkat pada abad terakhir, memungkinkan orang untuk melihat benda-benda di sekitarnya di malam hari. Generasi yang lebih tua dari kacamata night vision menggunakan cahaya inframerah untuk melemparkan lebih dari suatu daerah, sehingga orang dapat melihat melalui penglihatan kacamata untuk mendapatkan gambar dari target.

Cara penggunaan teropong

1. menggunakan kedua mata ketika melihat obyek yang juga ke titik akurat ke arah yang sama.
2. menggunakan kedua tangan, walaupun ukuran teropong bervariasi



Fokus dan penyesuaian



Central fokus teropong dengan jarak interpupillary disesuaikan. Teropong yang akan digunakan untuk melihat benda-benda yang tidak pada jarak yang tetap harus memiliki fokus pengaturan yang mengubah jarak antara lensa mata dan objektif. Secara tradisional, dua pengaturan yang berbeda telah digunakan untuk memberikan fokus.

Teropong dengan "fokus yang berbeda" memerlukan dua teleskop menjadi fokus yang berbeda dengan menyesuaikan setiap lensa mata. Teropong dirancang untuk penggunaan medan berat, seperti aplikasi militer, secara tradisional telah menggunakan fokus yang berbeda Karena pengguna umum merasa lebih nyaman untuk fokus kedua tabung dengan satu tindakan penyesuaian, jenis kedua dari teropong memasukkan "berfokus pusat", yang melibatkan perputaran roda fokus pusat untuk menyesuaikan kedua tabung bersama. Selain itu, salah satu dari dua mata dapat lebih disesuaikan untuk mengkompensasi perbedaan antar mata (biasanya dengan memutar lensa mata). Karena perubahan fokus dipengaruhi oleh lensa mata yang disesuaikan dan dapat diukur dalam unit adat daya bias, lensa mata disesuaikan sendiri sering disebut "diopter". Setelah penyesuaian ini telah dibuat untuk penampilkan suatu gambar tertentu, teropong dapat memfokuskan kembali pada objek pada jarak yang berbeda dengan menggunakan roda fokus untuk memindahkan kedua tuba secara bersama tanpa penyesuaian kembali lensa mata. teropong Paling modern juga diatur melalui sebuah konstruksi yang memungkinkan jarak antara dua bagian teleskop harus disesuaikan untuk mengakomodasi pemirsa dengan pemisahan mata yang berbeda. Kebanyakan dioptimalkan untuk jarak jauh (biasanya 56mm) untuk orang dewasa.

Persyaratan yang digunakan untuk menggambarkan pelapisan.

untuk semua teropong

Kehadiran setiap pelapis biasanya dilambangkan pada teropong dengan ketentuan sebagai berikut:

* coated optics : satu atau lebih permukaan adalah anti reflektif dilapisi dengan lapisan tunggal.
* fully coated : semua kaca ke permukaan udara adalah anti reflektif dilapisi dengan lapisan tunggal.
* multi-coated : satu atau lebih permukaan memiliki anti reflektif yang dilapisi layer .
* fully multi-coated : semua kaca ke permukaan udara adalah anti reflektif yang banyak dilapisi layer.

sumber :
http://translate.google.co.id

http://en.wikipedia.org/wiki/Binoculars

Dengan perubahan

Rabu, 09 Juni 2010

Dampak negati sinyal Wi-Fi terhadap tubuh kita

Wi-fi (wireless fidelity) yang lebih dikenal sebagai jaringan lokal nirkabel semakin populer terutama di negara-negara maju dan berkembang. Dengan wi-fi orang bisa masuk ke jaringan internet tanpa harus repot menyambungkan kabel dari komputer ke line telepon.

Memang enak ya kalau kitaberada di lungkungan yang ada wi-fi nya(seperti sekolah saya). Tapi selidik punya selidik siyal wi-fi berpengaruh juga terhadap tubuh kita. Mau tahu?

http://www.artikelbebasku.co.cc/

Di balik kemudahan yang ditawarkan wi-fi, ada beberapa keyakinan publik yang menganggap wi-fi berdampak negatif terhadap kesehatan. Mereka yang tidak setuju dengan kehadiran wi-fi beralasan radiasi elektro magnetik dari wi-fi bisa menyebabkan nyeri di kepala, gangguan tidur dan mual-mual, terutama bagi mereka yang electrosensitive. Tapi benarkah wi-fi berbahaya bagi kesehatan?

Ketakutan akan dampak buruk wi-fi terhadap kesehatan ini dimentahkan ilmuwan Inggris. Seperti yang diungkapkan Sir William Stewart, ketua Health Protection Agency, mengatakan pada BBC Programme Panorama, tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan teknologi wi-fi. Tak ada bukti pasti yang menyebutkan, perangkat seperti ponsel dan wi-fi menyebabkan kesehatan terganggu.

Hal senada juga diungkapkan Professor Lawrie Challis, dari Nottingham University. Dalam pernyataannya pada BBC, Senin (21/05), Prof Challis, yang menjabat sebagai ketua Mobile Telecommunications and Health Research (MTHR) menyebutkan: "Radiasi elektro magnetik dari Wi-fi sangat kecil, pemancarnya juga berkekuatan rendah, selain itu masih ada jarak dengan tubuh.

"Bisa jadi radiasi elektro magnetik sangat dekat dengan tubuh, ketika kita memangku laptop, namun dalam pengamaatan saya setiap orang tua akan meminta anak mereka untuk tidak terlalu sering menggunakan ponsel mereka dan selalu meminta mereka untuk menaruh laptop di atas meja, bukan di pangkuan, jika mereka berinternet terlalu lama."

Untuk mendukung pernyataan ini, tim Panorama BBC mengunjungi sebuah sekolah di Norwich, yang memiliki seribu siswa, dan mencoba membandingkan tingkat radiasi dari ponsel dan penggunaan wi-fi di dalam kelas. Hasilnya menunjukkan radiasi wi-fi di ruang kelas tiga kali lebih besar dibanding pancaran yang dikeluarkan ponsel.

http://www.artikelbebasku.co.cc/

Namun ahli kesehatan psikis Professor Malcolm Sperrin mengatakan sinyal wi-fi yang lebih besar tiga kali lipat dibanding radiasi ponsel di suatu sekolah masih belum relevan, karena belum ditemukan pengaruhnya terhadap kesehatan.

"Wi-fi adalah teknologi yang menggunakan gelombang radio elektro magnetik rendah, yang sebanding dengan oven microwave, bahkan 100 ribu kali lebih rendah dari microwave."

Tipe radiasi yang dipancarkan gelombang radio (wi-fi), microwaves, dan ponsel telah menunjukkan kenaikan level temperatur jaringan yang sangat tinggi, yang biasa disebut thermal interaction, namun masih belum ada bukti level tersebut menyebabkan kerusakan.

Health Protection Agency menyebutkan duduk di ruangan yang memiliki hotspot selama setahun sebanding dengan gelombang radio yang dipancarkan saat bercakap-cakap dengan ponsel selama dua puluh menit.

"Gelombang radio sudah menjadi bagian dari kehidupan kita selama hampir seabad atau lebih, namun jika ada gangguan yang signifikan terhadap kesehatan, pasti ada kajian yang akan mencatatnya, dan selama ini berbagai studi masih belum menemukan bukti transmisi wi-fi bagi kesehatan.

Hal senada juga didukung Professor Will J Stewart, rekan dari Royal Academy of Engineering, yang mengatakan: "Ilmu pengetahunan telah mempelajari pengaruh ponsel bagi kesehatan selama bertahun-tahun dan kekhawatiran akan dampak radiasi ponsel masih sangat kecil.

"Begitu juga dengan wi-fi, jika digunakan dalam batas yang wajar tak akan ada pengaruhnya bagi kesehatan dalam waktu yang lama. Namun bukan berarti semua radiasi elektro magnetik tak berbahaya, misalnya sinar matahari yang terbukti menyebabkan kanker kulit, jadi jika Anda menggunakan laptop saat berjemur di pantai, ada baiknya mencari tempat yang teduh," tambah Sperrin yang mengatakan sampai saat masih belum ada banyak bukti yang cukup berarrti akan dampak negatif wi-fi.

Namun yang lebih dikhawatirkan Sperrin bukan pada gelombang wi-fi, namun pada perilaku dalam penggunaan laptop, dan panas yang dihasilkan laptop pada beberapa bagian sensitif pada tubuh, yang berdampak pada kesehatan.

Sumber :
www.artikelbebasku.co.cc
apakabardunia.com

Selasa, 08 Juni 2010

Perbedaan Bunga Bangkai dan Bunga Raflesia Arnoldi

Rafflesia arnoldii

Merupakan tumbuhan parasit obligat yang terkenal karena memiliki bunga berukuran sangat besar, bahkan merupakan bunga terbesar di dunia. Ia tumbuh di jaringan tumbuhan merambat (liana) Tetrastigma dan tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis.


Tumbuhan ini endemik di Pulau Sumatera, terutama bagian selatan (Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan). Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan daerah konservasi utama spesies ini.

Jenis ini, bersama-sama dengan anggota genus Rafflesia yang lainnya, terancam statusnya akibat penggundulan hutan yang dahsyat. Di Pulau Jawa tumbuh hanya satu jenis patma parasit, Rafflesia patma.

Bunga merupakan parasit tidak berakar, tidak berdaun, dan tidak bertangkai. Diameter bunga ketika sedang mekar bisa mencapai 1 meter dengan berat sekitar 11 kilogram. Bunga menghisap unsur anorganik dan organik dari tanaman inang Tetrastigma.

Satu-satunya bagian yang bisa disebut sebagai "tanaman" adalah jaringan yang tumbuh di tumbuhan merambat Tetrastigma. Bunga mempunyai lima daun mahkota yang mengelilingi bagian yang terlihat seperti mulut gentong. Di dasar bunga terdapat bagian seperti piringan berduri, berisi benang sari atau putik bergantung pada jenis kelamin bunga, jantan atau betina.

Hewan penyerbuk adalah lalat yang tertarik dengan bau busuk yang dikeluarkan bunga. Bunga hanya berumur sekitar satu minggu (5-7 hari) dan setelah itu layu dan mati. Presentase pembuahan sangat kecil, karena bunga jantan dan bunga betina sangat jarang bisa mekar bersamaan dalam satu minggu, itu pun kalau ada lalat yang datang membuahi.

Bunga Bangkai

Disebut juga suweg raksasa atau batang krebuit (nama lokal untuk fase vegetatif), Amorphophallus titanum Becc., merupakan tumbuhan dari suku talas-talasan (Araceae) endemik dari Sumatera, Indonesia, yang dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga (majemuk) terbesar di dunia, meskipun catatan menyebutkan bahwa kerabatnya, A. gigas (juga endemik dari Sumatera) dapat menghasilkan bunga setinggi 5m.


Namanya berasal dari bunganya yang mengeluarkan bau seperti bangkai yang membusuk, yang dimaksudkan sebenarnya untuk mengundang kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Di alam tumbuhan ini hidup di daerah hutan hujan basah. Bunga bangkai adalah bunga resmi bagi Provinsi Bengkulu.

Tumbuhan ini memiliki dua fase dalam kehidupannya yang muncul secara bergantian, fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif muncul daun dan batang semunya. Tingginya dapat mencapai 6m. Setelah beberapa waktu (tahun), organ vegetatif ini layu dan umbinya dorman.

Apabila cadangan makanan di umbi mencukupi dan lingkungan mendukung, bunga majemuknya akan muncul. Apabila cadangan makanan kurang tumbuh kembali daunnya.

Bunganya sangat besar dan tinggi, berbentuk seperti lingga (sebenarnya adalah tongkol atau spadix) yang dikelilingi oleh seludang bunga yang juga berukuran besar. Bunganya berumah satu dan protogini: bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri.


Sumber :
wari-wagito.blogspot.com
apakabardunia.com